Advertisement

Damai Bersama Takjil



Kolak Labu dan Pisang

Ramadhan merupakan bulan yang di dalamnya terdapat keberkahan. Istilah “Ramadhan bulan penuh berkah” sudah sangat akrab di telinga kita semua terutama kita yang muslim. Memang demikianlah adanya, pada bulan Ramadhan kita akan banyak mendapati kebaikan yang ditebarkan umat Islam melalui banyak aktivitas. Berbagi makanan, bersedekah, berbondong-bondong mendatangi pengajian keilmuan agama, dan lain-lain.

Berkah, menurut Imam Al Ghazali dalam Ensiklopedia Tasawwuf dimaknai sebagai ziyadatul khair atau bertambahnya kebaikan. Jika makna ini kita pakai dalam konotasi bulan Ramadhan tadi, maka kita dapat melihat bahwa bulan Ramadhan memanglah bulan penuh berkah, bulan di mana kebaikan-kebaikan kian bertambah banyak. Pada bulan inilah, umat islam berlomba-lomba meningkatkan kuantitas serta kualitas ibadahnya.

Salah satu kebaikan yang ada bahkan hanya ada di bulan Ramadhan adalah tradisi ta’jil dalam berbuka puasa. Hanya pada bulan Ramadhan kita dapat melihat di berbagai tempat, orang-orang menjajakan ta’jil untuk berbuka puasa. Sedangkan di tempat-tempat ibadah seperti masjid dan atau musholla, ta’jil dihidangkan bagi siapa saja yang mengunjungi masjid atau musholla tersebut pada waktu jelang berbuka yang biasanya, dibarengi dengan acara pengajian sejenis kultum Ramadhan.

Tradisi ta’jil untuk berbuka puasa ini cukup beragam di Indonesia. Ada yang memilih kolak sebagai takjil, ada pula yang menjadikan bubur sebagai ta’jil untuk berbuka puasa seperti yang dilakukan oleh warga dusun Kauman, desa Wijirejo, Pandak, Bantul, Yogyakarta. Di masjid yang terdapat di dusun tersebut atau masjid Sabilurroyad, warga menjadikan bubur sebagai tradisi ta’jil berbuka puasa mereka. Tradisi ini, sudah berlangsung sejak abad 16 yang pada masa itu pertama kali dilakukan oleh Panembahan Bodho atau yang bernama asli Adipati Trenggono.

Adapun yang dihidangkan bersama bubur dalam tradisi tersebut yaitu sayur lodeh. Sedangkan mengenai pemilihan bubur lodeh ini, menurut salah seorang takmir masjid tersebut, memiliki makna filosofisnya sendiri. Bubur yang merupakan makanan asal tanah India ini mengandung makna berbahasa arab bibirrin atau yang berarti dengan kebagusan. Jika dimaknai lebih jauh, kebagusan di sini merupakan cerminan agama Islam, yang ajarannya harus disebarkan dengan cara yang bagus, cara yang baik-baik dan bukan dengan kekerasan.

Kemudian selain mengandung makna Bibirrin, tradisi ta’jil dengan bubur lodeh ini juga dimaknai sebagai beber, yaitu dalam pelaksanaannya sebelum menikmati ta’jil ini, harus didahului dengan pembeberan menganai ajaran Islam atau seperti yang telah disebutkan di atas tadi, yaitu dengan diadakan pengajian atau kultum sebelumnya.

Di samping itu, beber juga dapat diartikan bahwa ajaran Islam harus menyatu dengan masyarakat tanpa memandang status sosialnya. Sedangkan untuk bubur sendiri, juga mengandung arti bahwa syiar islam harus disampaikan dengan cara yang santun, dengan cara yang halus dan bukan dengan cara yang keras apalagi dengan kekerasan.

Bubur Lodeh

Bagaimana tradisi Ta’jil di Buaran, Pekalongan?

Tidak berbeda jauh dengan di tempat-tempat daerah lain, di Pekalongan pun dapat ditemukan tradisi ta’jil ini. Yang peling dekat dengan tradisi seperti di Yogyakarta, yaitu ta’jil dengan bubur, dapat ditemukan di Kelurahan Kradenan, Pekalongan Selatan. Di sebuah masjid yang juga menjadi majelis dzikir dan shalawat (dalam hal ini shalawat Dalailul Khairat), setiap bulan puasa, para jama’ah di majelis tersebut juga memiliki tradisi berbuka dengan bubur lodeh.

Di majelis tersebut, setiap bulan Ramadhan selalu mengadakan pengajian tadarrus Al Qur’an yang kemudian disambung secara langsung dengan pembacaan Hizb Dalailul Khairat. Adapun di bulan selain Ramadhan, di sana hanya diadakan pembacaan kitab Dalailul Khairat saja. Sedangkan untuk kitabnya ini, yang dibaca merupakan kitab karya Syaikh Abu Abdillah Muhammad bin Sulaiman Al Jazuly. Yaitu seorang Ulama asal Maroko yang hidup pada abad 15 Masehi.

Di majelis yang sudah sangat terkenal di sekitar Pekalongan ini, setiap bulan Ramadhan memang selalu mengyediakan bubur bagi jama’ahnya. Untuk jama’ah laki-laki, biasanya ta’jil diberikan untuk berbuka di masjid. Sedangkan untuk jama’ah perempuan, ta’jil berupa bubur tersebut diberikan dalam bentuk “wungkusan” alias dibungkus dengan menggunakan daun.

Di lain tempat, di masjid desa Simbang Wetan, misalnya, selalu mengadakan buka bersama dengan menu makanan yang tak jarang menunya terhitung istimewa. Selain membagikan ta’jil berupa kolak, buka bersama di masjid ini juga selalu ramai pengunjung baik anak-anak maupun orang-orang sepuh.

Sebelum berbuka, pun diadakan pengajian terlebih dahulu yang menurut lisan orang-orang sekitar, dikenal dengan istilah “Jipeng” atau “Jiping” alias Ngaji Kuping. Yaitu mengaji dengan hanya mendengarkan saja, dan tidak mengaji dengan membawa kitab yang dibacakan oleh Kyai atau Ustadznya layaknya pengajian kilatan, pasaran, ataupasanan. Pengajian jenis ini memang lebih digemari oleh orang-orang yang sudah sepuh alias sudah tua.

Tradisi ta’jil memang selalu ada di mana-mana. Bukan hanya di majelis-majelis atau masjid dan mushola saja, tak jarang kita juga dapat dengan mudah menemukan tradisi pembagian ta’jil di jalan-jalan yang biasanya diadakan oleh komunitas-komunitas atau organisasi massa yang ada. Bulan Ramadhan, selalu memiliki warna yang menyejukkan jika kita mampu memandangnya dengan kacamata yang jernih.

Jika mau jujur, kita, setidaknya sampai pertengahan Ramadhan ini dan semoga seterusnya, dapat menikmati Ramadhan dengan suasana yang tenang. Hiruk-pikuk keriuhan orang-orang di berbagai media pun nampaknya bisa dikatakan cukup berkurang. Dan keriuhan-keriuhan tentang perdebatan yang pada bulan-bulan sebelum Ramadhan lalu selalu memekakkan telinga serta memperkeruh mata kita, sepertinya tak lagi sepanas waktu itu. Bulan Ramadhan, memang sudah seharusnya dijalani dan dilewati dengan penuh ketenteraman, kebahagiaan, dan usaha menciptakan kenyamanan setinggi mungkin.

Sebuah usaha yang selayaknya kita resapi benar-benar dalam menjalani segala bentuk ibadah di bulan Ramadhan, seperti menikmati ta’jil bersama, harus menjadi pupuk bagi kesadaran kita akan pentingnya beribadah dalam damai. Hidangan ta’jil merupakan sebuah tradisi yang telah melekat dengan bulan Ramadhan. Ia senantiasa menjadi bagian yang selalu ada di setiap bulan Ramadhan tiba. Namun demikian, kita sebaiknya bersikap selektif dalam memilih ta’jil untuk berbuka puasa. Karena bukan tidak mungkin, jika kita salah memilih menu pembuka dalam berbuka puasa ini, kita akan terkena suatu penyakit. Maka dari itu, pilihlah ta’jil yang baik agar dengan puasa kita memperoleh berkah alias bertambah baik. 


Ditulis oleh Em

Gambar dari pinterest.com - tempo.co

Posting Komentar

0 Komentar