Ngaji
Kilatan; Nikmat Bid'ah Mana Lagi yang Kau Dustakan?
Dari pelbagai hadits yang ada, Ulama sepakat bahwa
bulan Ramadhan adalah bulan yang paling cocok untuk berlomba-lomba dalam
melakukan kebaikan. Oleh itu Khalifah Umar mengekspresikannya dalam bentuk
ijtihad, yakni salat tarawih 20 rakaat dengan satu komando yang diimami
oleh sahabat Ubay bin Ka’ab. Artinya konsep tarawih yang ada saat ini baik 20
ataupun 8 rakaat adalah sesuatu yang baru alias bid'ah, di zaman Nabi tidak
dikenal kata "tarawih" maka saya katakan sekali lagi tarawih itu
bid'ah.
Berhubung saya mengikuti madzhab Ahlussunnah wal
Jama’ah (Aswaja), maka bagi saya meski tarawih adalah bid'ah tetap saja salat
tarawih itu tidaklah sesat sebab bid'ah itu secara global terbagi menjadi dua,
Bid’ah Sayyi’ah dan Bid’ah Hasanah.
Maka menurut konstitusi madzhab Aswaja, salat
tarawih itu masuk dalam kategori Bid'ah Hasanah. Jadi sah-sah saja diamalkan
bahkan sangat berpotensi untuk mendapatken banyak pahala. Karena bagaimanapun
tarawih pada dasarnya mengikuti anjuran Nabi untuk menghidupkan malam-malam di
bulan Ramadhan.
Pondok Pesantren Adalah Bid'ah
Dalam salah satu karya tulisnya, beliau mbah Hasyim
Asy’ari menuliskan:
وَلِذَا قَسَّمَ ابْنُ عَبْدِ السَّلَامِ اَلْحَوَادِثَ اِلَى الْأَحْكَامِ الْخَمْسَةِ فَقَالَ : اَلْبِدْعَةُ فِعْلُ مَالَمْ يُعْهَدْ فِيْ عَصْرِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاجِبَةً كَتَعَلُّمِ النَّحْوِ وَغَرِيْبِ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ مِمَّا يُتَوَقَّفُ فَهْمُ الشَّرِيْعَةِ عَلَيْهِ, وَمُحَرَّمَةً كَمَذْهَبِ الْقَدَرِيَّةِ وَالْجَبَرِيَّةِ وَالْمُجَسِّمَةِ, وَمَنْدُوْبَةً كَإِحْدَاثِ الرُّبُطِ وَالْمَدَارِسِ وَكُلِّ إِحْسَانٍ لَمْ يُعْهَدْ فِي الْعَصْرِ الْأَوَّلِ, وَمَكْرُوْهَةً كَزُخْرُفَةِ الْمَسَاجِدِ وَتَزْوِيْقِ الْمَصَاحِفِ, وَمُبَاحَةً كَالْمُصَافَحَةِ عَقِبَ صَلَاةِ الصُّبْحِ وَالْعَصْرِ وَالتَّوَسُّعِ فِي الْمَأْكَلِ وَالْمَشْرَبِ وَالْمَلْبَسِ وَغَيْرِ ذَلِكَ
Imam ibnu Abdissalam membagi perkara-perkara yang
baru itu ke beberapa hukum yang lima. Beliau berkata: Bid’ah adalah mengerjakan
sesuatu yang tidak pernah dikenal (terjadi) pada masa Rasulullah SAW. Bid’ah
tersebut adakalanya;
1. Bid’ah Wajibah: seperti mempelajari ilmu
Nahwu dan mempelajari lafadz-lafadz yang gharib baik yang terdapat di dalam
al-Quran ataupun as-Sunnah, di mana pemahaman terhadap syari’ah menjadi
tertangguhkan sejauh mana seseorang dapat memahami maknanya.
2. Bid’ah Muharramah: seperti aliran Qadariyah,
Jabariyah dan Mujassimah.
3. Bid’ah Mandubah: seperti memperbaharui sistem
pendidikan pondok pesantren dan madrasah-madrasah, juga segala bentuk kebaikan
yang tidak dikenal pada zaman generasi pertama Islam.
4. Bid’ah Makruhah: seperti berlebih-lebihan
menghiasi masjid, menghiasi mushaf dan lain sebagainya.
5. Bid’ah Mubahah: seperti bersalaman selesai salat
Shubuh dan Ashar, membuat lebih dalam makanan dan minuman, pakaian dan
lain sebagainya.”
Maka dari pemahaman inilah bisa disimpulkan bahwa
mendirikan lembaga pendidikan seperti pon-pes sampai perguruan tinggi adalah
bid’ah yang nyata, sehingga andaipun kalian masih menyatakan setiap bid’ah itu
sesat dan masuk neraka maka, haram hukumnya sekolah apalagi kuliah. Hehehehe.
Sekelumit Tentang Pesantren
Beberapa tahun silam, saat zaman terdampar di
Ponpes Langitan, saya pernah membaca keterangan bahwa waktu itu usia pon-pes di
mana Mbah Hasyim pada tahun 1900an pernah nyantri di situ, telah berumur satu
setengah abad, maka pada waktu itu saya merasa yakin bahwa Langitan adalah
pondok tertua di tanah jawa ini, karena konon Langitan oleh muasisnya yakni
Mbah Nur (Kyai Muhammad Nur) didirikan pada tahun 1852.
Tapi selanjutnya dari hasil ngobrol ngalor ngidul
dengan beberapa konco santri Langitan, keyakinan saya –tentang Langitan yang
menjadi pon-pes tertua—pun goyah, karena menurut konco saya, pondok pesantren
Sidogiri saja saat itu konon telah berusia 200 tahun (dalam satu versi
didirikan pada tahun 1718 namun dalam versi yang lain didirikan pada tahun
1748). Jadi Sidogiri lebih tua dari Langitan.
Selang beberapa tahun kemudian saya menemukan
keterangan lain, bahwa pesantren tertua adalah Tegalsari (di Jetis, Ponorogo,
Jawa Timur), meski pon-pes ini sudah tidak eksis lagi namun begitu sejarah
mencatat pondok yang terkenal di zaman kepengasuhan Kyai Hasan Besari ini
ternyata lebih tua dari Sidogiri. Dalam suatu wawancara di media online
Liputan6 per tanggal 9 agustus 2011 silam, Kyai Syamsuddin (salah satu staf
pengajar di ponpes Tegalsari) menjelaskan, pada masa kejayaan pesantren sekitar
tahun 1650, santri yang menimba ilmu di sini hampir mencapai 10 ribu orang.
"Tapi di tahun 1970, pesantren ini mulai sepi." Artinya, jika masa
keemasanya saja ditahun 1650an, berarti kemungkinan tahun berdirinya lebih lama
dari angka tersebut.
Rasa ingin tahu ternyata tidak berhenti begitu
saja, saya semakin penasaran untuk mengorek tentang pon-pes apa yang paling
tua? Saya terus mencari sumber data yang ada dan pada akhirnya saya justru
menemukan dua nama lagi:
1. Pondok Pesantren Al Kahfi Somalangu, Kebumen,
Jawa Tengah. Didirikan oleh Syekh As Sayid Abdul Kahfi Al Hasani (Ulama besar
dari Hadramaut, Yaman) pada 4 Januari 1475 M/879 H. Pondok pesantren ini masih
eksis sampai sekarang.
2. Pesantren Jan Tampes II di Pamekasan.
Dalam Desertasi Doktor Masiubu “Dinamika Sistem
Pendidikan Pesantren”, penerbit IMS, Jakarta 1994, dibutkan bahwa pesantren
yang Pertama kali didirikan di Madura adalah Pesantren Jan Tampes II ini.
Pon-pes ini didirikan pada tahun 1062 atau sekitar 5 abad sebelum berdirinya
kerajaan Islam Demak yang didirikan oleh Wali Songo. Namun Pesantren Jan Tampes
II itu di mana? Kalau ada Pesantren Jan Tampes II tentu ada Jan Tampes I. Kapan
berdirinya ? Nah ini yang semakin bikin penasaran....
Ohya, konon kata “pesantren” sendiri berasal dari
akar kata santri dengan awalan ”pe” dan akhiran ”an” berarti tempat tinggal
para santri.
Profesor John berpendapat bahwa istilah santri
berasal dari bahasa Tamil, yang berarti guru mengaji.
Sedang menurut Cornelius Christian Berg, bahwa
istilah tersebut berasal dari kata "shastri" yang dalam bahasa India
adalah orang-orang yang tahu buku-buku suci agama Hindu, atau seorang sarjana
ahli kitab suci agama Hindu. Sedang menurut pendapat lain, kata “santri”
dirunut dari kata “cantrik”, yakni para pembantu begawan atau resi yang diberi
upah berupa ilmu.
Selain istilah tersebut diatas, dikenal pula
istilah pondok yang berasal dari kata Arab “fundûq” yang berarti berarti
penginapan.
So... silahken disimpulkan sendiri atau anda juga
boleh menambah jika memang anda punya keterangan lain.
Ngaji Pasan, Pasaran, dan Kilatan
Oleh temen saya, saya dimintai untuk menulis
tentang apa itu ngaji pasaran, bagaimana sejarah mulanya, hingga bagaimana
metode praktek serta apa pula faedahnya?
Maka dengan menyebut nama Allah yang Maha Rahman
dan Rahim, saya memohon taufiq-Nya untuk menyusun tulisan ini...
Jadi begini, Sudah menjadi semacam tradisi yang
turun temurun sampai sekarang, pada bulan Ramadhan di beberapa pesantren besar
ramai didatangi orang-orang untuk ikut mengaji kitab tertentu. Tradisi ini
dalam kalangan pesantren, biasa disebut ngaji pasanan atau pasaran.
Kata "pasan" merujuk dari kata
"pasa" yang artinya ngaji di bulan puasa, sedangkan kata
"pasaran" menurut salah satu pendapat disebut pasaran karena materi
kitab yang ditawarkan pada saat ngaji itu sangat banyak dan beragam meliputi
banyak sekali fan ilmu mulai gramatikal, fiqih, tafsir, hadits, tasawuf bahkan
kadang ilmu hikmah atau metafisika. Saking lengkapnya maka diibaratkan pasar
yang memyediakan segala kebutuhan pembelinya. Sebagai contoh pondok pesantren
seperti Al Falah, Ploso, Kediri saja, ngaji pasaran pada tahun ini membacakan
sekitar 60 judul kitab. Pondok Langitan pada tahun ini sekitar 50-an judul.
Sedangkan pesantren Lirboyo pada tahun lalu menurut
data yang saya terima telah membaca sekitar 50-an lebih judul kitab kuning
selama mengisi hari-hari bulan Ramadhan. Adapun pondok Sarang, Rembang yakni
meliputi Al Anwar, MUS, MIS dan seterusnya, bulan Ramadhan tahun ini mengkaji sekitar
30-an lebih judul kitab dan masih banyak pondok pesantren lain yang kerna
keterbatasan saya, tidak bisa saya sebutkan semuanya.
Dari data di atas maka tidak salah jika saat bulan
Ramadhan tiba pondok-pondok pesantren besar dijadikan ajang memburu berkah oleh
para santri yang tersebar seantero nusantara. Saat bulan puasa, pesantren
menjadi ibarat pasar serba ada, mau kitab dengan fan apa tinggal pilih.
Ngaji pasaran juga disebut kilatan, atau oleh orang
non pesantren salaf kini diadopsi menjadi istilah "Pesantren Kilat
Ramadhan". Dinamakan kilatan karena di bulan Ramadhan kitab yang umumnya
dibaca dikhatamkan membutuhkan waktu lama tapi karena momen ramadhan menjadi
secepat kilat satu bulan khatam (biasanya kalau kitab besar seperti Ihya
‘Ulumuddin dimulai dari tanggal 20 Sya'ban dan khatam antara tanggal 20-25
Ramadhan).
Untuk menggambarkan kekilatan pengajian ini saya
ambil contoh kasus ngaji Ihya ‘Ulumuddin, umumnya kitab setebal 500 halaman
tiap jilidnya dengan jumlah total empat jilid ini, normalnya dikhatamkan dalam
kurun waktu hampir 2-4 tahun, tapi oleh ngaji kilatan kitab tersebut cukup
hanya satu bulan khatam, maka bayangkan saja bagaimana ngantuknya, kritingnya
tangan kita, pegelnya boyok kita (para santri) saat itu dalam memperjuangkan
ngaji kilatan.
Ngaji pasan, pasaran atau kalo di pondok Sarang,
Rembang disebut dengan istilah “Balagh Ramadhan” ini, sebenarnya adalah tradisi
turun temurun pesantren yang sudah ada sejak lama. Jadi manfaat ikut ngaji
kilatan Ramadhan di samping untuk ber-fastabiqul khoirat di bulan
Ramadhan juga sebagai wahana ngurip-nguripi tradisi nenek moyang kita
atau istilah kerennya; al-Muhafadhotu ‘ala Qodimis Sholih wal Akhdzu bil
Jadidil Ashlah, yang berarti; “Memelihara tradisi lama yang baik dan
mengambil tradisi baru yang lebih baik.” Jadi ngaji kilatan itu jelas Bid'ah.
Hehehehe.
Titik Ngaji Kilatan di Buaran Pekalongan
Buaran adalah Kecamatan yang merupakan salah satu
wilayah dari 19 Kecamatan yang ada di Kabupaten Pekalongan , terletak pada
dataran rendah Pulau Jawa di antara 109 derajat - 110 derajat BT dan 6 derajat
– 7 derajat LS. Luas Wilayah Kecamatan Buaran 9,54 kilometer persegi, terdiri
dari 3 Kelurahan dan 7 Desa, dan jumlah Dusun 41, serta jumlah RW 82 dan RT
235.
Kondisi Kecamatan Buaran secara Demografis menurut
data per akhir bulan Juni tahun 2013 sebanyak 49.084 jiwa yang terdiri dari
nyaris seimbang 50%-50%:
Laki - laki : 24.734 jiwa.
Perempuan : 24.350 jiwa.
Masyarakat Kecamatan Buaran merupakan masyarakat
agamis, di mana sebagian besar penduduk beragama Islam dengan tingkat ketaatan
hukum agama sangat tinggi. Di samping itu Kecamatan Buaran didiami oleh
masyarakat yang dinamis di mana mayoritas penduduk bermata pencaharian pada
industri sandang, dengan jenis industri rumahan.
Buaran dikenal sebagai basis santrinya pekalongan,
sebab hampir 50% penduduk Buaran diduga pernah mengenyam pendidikan pesantren
baik modern ataupun salaf, maka tidak heran jika nuansa religius ala santri
sangat kentara jika kita melewati sepanjang ruas jalan di Buaran. Di jalanan
utamanya saat sore hari kita akan sering menjumpai para warganya yang laki-laki
“berkostum” sarung dan berpeci songkok khas santri. Sedangkan kaum perempuan
juga akan banyak kita jumpai berpakaian ala santriwati. Belum lagi jika hari
Kamis sore sampai Jumat sore maka dari corong-corong mushola kita akan
mendengar suara acara tradisi keagamaan yang saling bersahutan.
Maka tidak heran, saat bulan Ramadhan banyak kita
temui utamanya pagi dan sore hari kalangan remaja baik yang berstatus santri
(yang kebetulan tidak ngaji pasan di pondoknya) ataupun remaja yang belum
pernah nyantri, akan kita temui menenteng kitab-kitab kuning, pertanda mereka
berangkat atau pulang dari ngaji kilatan Ramadhan.
Sebenarnya tradisi ngaji kilatan di Buaran tidak
hanya di-uri-uri oleh kalangan remajanya, kalangan bapak ibu juga begitu
semangat untuk ikut ngaji kilatan.
Mengenai titik ngaji atau di mana saja yang dapat
ditemukan tempat mengaji kilatan selama Ramadhan, sebatas pengamatan saya, di
samping tradisi ngaji kilatan adalah agenda tahunan bagi beberapa pondok
pesantren yang tersebar di wilayah Buaran, ngaji kilatan juga diadakan oleh
beberapa majlis taklim, baik yang bersifat pribadi ataupun yang diadakan oleh
organisasi seperti IPNU atau semisalnya.
Ngaji kilatan di Buaran juga diadakan di
mushola-mushola dan masjid yang ada di wilayah Buaran. Biasanya pengajian
kilatan ini sekalian digabung dengan acara buka bersama. Jadi dapat ilmu juga
dapat buka gratis. Wkwkwkwk.
Dan bocoranya ada salah satu masjid di suatu desa yang
ada di Kecamatan Buaran yang mengadakan ngaji kilatan dengan fasilitas menu
buka puasa yang spesial, dan ini semoga menjadi rahasia saya saja. Hahahaha.
Terakhir, sebagai penutup, saya menyitir suatu dawuh
Sayyidina Umar:
فَقَالَ عُمَرُ: نِعْمَتِ الْبِدْعَةُ هَذِهِ
“Sebaik-baik bid’ah adalah ini."
Jika pada masa itu, Sayyidina Umar mengatakan hal
tersebut dalam konteks salat tarawih, maka ingin sekali rasanya saya
mengucapkannya untuk perkara lain: Ngaji Kilatan. Hehe.
Rasulullah memerintahkan kita untuk menghidupkan
bulan Ramadhan dengan banyak amal baik, di samping juga menyuruh menuntut ilmu
agama.
So.. meski tradisi pesantren dan ngaji ala
pesantren adalah sesuatu yang asing di zaman Nabi alias Bid'ah, tapi yakinlah
ngaji kilatan bukanlah sesat kerna bid'ah, seperti yang telah saya singgung di
awal tulisan ini, pun ada yang baik (Bid’ah Hasanah).
Ditulis oleh Muhammad Adib
Sumber gambar: Aktual.com - brilio.net - jawatimuran.net -


0 Komentar