Hari Jum'at dan Wujud Toleransi Umat Islam
Dalam sebuah kesempatan, saya pernah membaca tulisan di salah satu media daring yang kira-kira isinya begini:
Suatu ketika, dalam sebuah konferensi gereja di hadapan 700 pendeta Pak Jusuf Kalla juga ditanya “Mengapa di kantor-kantor mesti ada masjid?”
Dalam sebuah kesempatan, saya pernah membaca tulisan di salah satu media daring yang kira-kira isinya begini:
Suatu ketika, dalam sebuah konferensi gereja di hadapan 700 pendeta Pak Jusuf Kalla juga ditanya “Mengapa di kantor-kantor mesti ada masjid?”
Dengan tegas Pak JK menjawab: “Justru ini dalam rangka
menghormati Anda (yang non-muslim). Jumat ‘kan tidak libur, Anda libur hari
Minggu untuk kebaktian. Anda bisa kebaktian dengan 5 kali shift, ibadah Jum’at cuma sekali. Kalau Anda tidak suka ada masjid
di kantor, apa Anda mau hari liburnya ditukar; Jumat libur, Minggu kerja.
Pahami ini sebagai penghormatan umat Islam terhadap umat Kristen.”
Ternyata hari libur pun menjadi hal yang sensitif dan tabu
untuk dibicarakan di negeri ini. Belum lagi kalau kita harus mengkaji
"hari libur" dalam sudut pandang sejarah keindonesiaan, maka saya
rasa akan semakin membuat jarak di antara kita (umat beragama di
Indonesia) kian melebar jauh. Maka dari itulah barangkali memang seharusnya
bentuk toleransi adalah saling memahami dari kedua belah pihak yang berbeda.
Namun begitu, sebagai orang yang mengaku sebagai orang islam,
--ini bisa saya buktikan dalam kolom agama di KTP saya, hehehe-- saya perlu
sedikit bicara tentang urgensi libur di hari Jumat dalam sudut kajian keislaman
dan tradisi, andai pun pada akhirnya kalian semua merasa tidak dan atau kurang
setuju terhadap tulisan ini, dengan senang hati saya persilakan kalian untuk membantah
argumen saya dalam tulisan sederhana ini. Saya, toh hanya menulis dan berpendapat. Bukankah
begitu?
Saudara-saudara semua yang semoga dirahmati Allah, Dalam
sudut pandang kajian keislaman, termaktub
dalam surat Al Jumu'ah ayat 9 dijelaskan:
(9). يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ
مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ الَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ۚذَٰلِكُمْ
خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
"Hai orang-orang
yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jum`at, maka
bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang
demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui".
Satu ayat ini bisa kita pahami bahwa dalam Islam hari Jumat adalah
hari istimewa untuk beribadah, di mana dalam hari-hari lain tidak ada
penyebutan khusus dalam Al Qur'an untuk ibadah khusus. Belum lagi dalam nash-nash lain dijelaskan tentang beberapa
keistimewaan serta keutamaan yang dianjurkan dan hanya ada di hari Jumat, seperti
misalnya membaca salawat atas Nabi Muhammad, membaca Surat Al Kahfi, Yasin, Al
Waqi’ah dll. Melalui ayat dalam surat yang saya sampaikan di atas, dapat
diambil kejelasan bahwa hari Jumat merupakan hari istimewa bagi orang-orang Islam.
Pekalongan dan Libur
Hari Jumat
Pada mulanya saya beranggapan bahwa di Indonesia ini hanya
di kota/kab Pekalongan saja yang ada tradisi libur hari Jumat. Dengan pede beberapa kali saya mengklaim di hadapan
konco bolo bahwa di Indonesia ini
satu satunya yang menganut tradisi Libur hari jum'at hanyalah Pekalongan,
ternyata eh ternyata, salah seorang teman saya memprotes... "tidak kisanak, di Jepara juga mengenal
tradisi itu." begitu teman saya itu.
Okelah kalau begitu saya revisi; hanya Jepara dan Pekalongan
yang menganut tradisi itu (ini baru sejauh riset ecek-ecek saya, kalau ternyata saya masih kurang tepat, silakan saudara-saudara
tambahkan beberpa hal benar menurut saudara pada kolom komentar di bawah).
Saudara-saudara semua yang saya cintai dan sayangi. Sebagai
manusia yang terlahir di wilayah perbatasan kota Pekalongan dengan kabupaten Pekalongan,
maka dalam tulisan ini saya akan lebih berbicara tentang Pekalongan, bukan
Jepara. Di samping Pekalongan merupakan tanah lahir saya, saya juga memiliki
keterbatasan data kalau harus membicarakan soal tradisi yang ada di Jepara.
Ada beberapa hal yang menjadi catatan saya pribadi mengenai
hari Jumat yang dipakai sebagai hari libur ini.
Pertama, di desa saya, Madrasah (Madrasah adalah kata serapan
dari bahasa arab untuk menyebut sebuah lembaga pendidikan, begitulah kira-kira)
atau yang barangkali biasa kalian kenal sebagai sekolah Arab (sekolah berasal
dari Bahasa Latin: skhole, scola, scolae atau skhola yang memiliki arti: waktu
luang atau waktu senggang, di mana ketika itu sekolah adalah kegiatan di waktu
luang bagi anak-anak di tengah-tengah kegiatan utama mereka, yaitu bermain dan
menghabiskan waktu untuk menikmati masa anak-anak dan remaja).
Di madrasah-madrasah yang ada di desa saya; mulai dari
jenjang RAM (Raudhotul Athfal Muslimat) atau bahasa kerennya Taman Kanak-kanak
alias TK, Madrasah Ibtida’iyyah, Tsanawiyyah, hingga madrasah Aliyah, kesemuanya
memiliki hari Libur yakni hari Jumat. Hari Jumat telah menjadi hari libur yang
umum bagi sekolah-sekolah atau madrasah-madrasah tersebut.
Kedua, sebagai kota industri yang berfokus pada sandang
a.k.a pakaian, maka, di Pekalongan kita akan menemukan banyak sekali home industry yang bergerak di bidang
pakaian, utamanya Batik, baik Batik tulis, print
(sablon) dan juga Batik cap. Sejumlah home
industry tersebut hampir semuanya menerapkan kebijakan libur kerja
karyawannya pada hari Jumat.
Maka dari itu, jangan heran kalau auatu hari kalian
berkunjung ke Pekalongan utamanya saat melewati ruas jalan Buaran dan
sekitarnya pada Kamis sore hingga malam Jumat akan terasa seperti malam Minggu
Ahad di kota lain (maaf, saya lebih nyaman menggunakan kata Ahad dari pada
Minggu). Tiada lain, keramaian pada Kamis malam ini karena saya di sini, kami sebagai
warga Pekalongan memiliki tradisi terima gajian pada tiap hari Kamis alias
kemisan, atau dalam bahasa orang-orang Pekalongan disebut sebagai “Pocoan”.
Pemanfaatan hari Jumat sebagai hari libur proses
belajar-mengajar di sekolah formal ini, tak jarang di sini kami pergunakan
untuk mengadakan hajatan-hajatan kecil maupun besar. Seperti misalnya, umumnya,
warga di sini mengadakan acara Walimatul ‘Ursy (pernikahan), Tasyakuran
Khitanan, Nyadran (sedekah bumi), pada hari Jum’at. Lain dari itu, acara-acara
keagamaan pun, biasanya rutin kami lakukan pada hari libur ini seperti
Manaqiban (pembacaan manaqib Syeikh Abdul Qodir Al Jilany), Yasinan, Tahlilan,
Barzanjian (bukan berjanjian, tapi dari kata Barzanji; kitab tentang perjalanan
hidup Nabi Muhammad yang ditulis oleh Syeikh Al Barzanji), dan seterusnya.
Walhasil, kami benar-benar memanfaatkan momen libur setiap Jumat
ini sebagai wahana silaturahmi massal dan men-charge nutrisi rohaniah untuk kemudian menjadi bekal melanjutkan hari
esoknya; Sabtu (hari awal pekan kami di sini) dalam keadaan fit secara jasad
(dengan mengistirahatkan tubuh dari lelah-letihnya pekerjaan) dan rohani (usai
menutrisi kerohaniahan dengan dzikir-dzikir serta salawat).
Jadi ibarat sebuah mesin, kami benar-benar memahami potensi
daya tubuh baik jasad dan rohani kemampuan kapasitas kami, untuk itulah
memiliki hari libur pada hari Jumat bagi kami menjadi suatu hal begitu penting
dan sangat berharga.
Terakhir, sebelum tulisan ini saya tutup, saya sampaikan
beberapa terjemah hadits yang menunjukan keutamaan hari Jumat:
Diriwayatkan dari Annas Radhiyallahu
‘anhu bahwa Nabi Muhammad Shollallahu
‘alaihi wasallam bersabda: Jibril
datang padaku, di tangannya ada cermin putih, dan dia berkata: "Ini
adalah hari Jumat, Tuhanmu mewajibkan padamu agar menjadikannya hari raya
untukmu dan untuk umat sepeninggalanmu".
Hari Jumat adalah pemimpin semua hari, dan kelak pada hari
kiamat kita akan menyebutkan sebagai ‘Hari Tambahan’ Aku (Nabi SAW) bertanya: Mengapa begitu?
Jibril menjawab: Sesungguhnya
Tuhanmu 'Azza Wa Jalla membuat lembah yang baunya amat semerbak dan putih
warnanya. Bila datang hari Jumat, maka Allah akan turun dari ‘Illiyyin menuju
Kursi-Nya dan melihat mereka, sampai mereka bisa memandang DzatNya yang Agung.
Nabi SAW juga bersabda: Sebaik-baik
matahari terbit ialah hari Jumat. Hari itu Adam diciptakan, dimasukkan ke
surga, diturunkan ke bumi, diterima tobatnya, hari kematiannya dan hari akan
datangnya kiamat. Hari itu menurut Allah adalah hari tambahan. Pada hari itu
para malaikat bisa menyebut di langit, dia adalah hari dimana bisa memandang Allah
dalam surga.
Mengagungkan
hari Jumat, dengan memperbanyak istirahat dari segala urusan keduniawian adalah
hal yang lumrah sebagaimana misalnya orang Kristen mengagungkan hari Ahad/Minggu,
atau orang Yahudi yang juga memiliki hari agungnya yaitu hari Sabtu, atau pula
hari lain yang diagungkan oleh kaum beragama selainnya.
Demikian.
*Ditulis oleh Muhammad Adib.
Sumber gambar: Flickr.com
Sumber berita: Detik.com

0 Komentar