Advertisement

Petasan; Teman di Bulan Ramadhan


Petasan

Pagi masih gelap, orang-orang baru saja turun dari masjid dan mushola usai menjalankan ibabah salat Subuh berjama’ah. Pada saat itulah, berduyun-duyun anak-anak kecil berjalan kaki menuju ke sebuah lapangan yang ada di desa mereka. Sebuah lapangan yang biasanya dipakai untuk latihan sepak bola, yang di salah satu bagian tersudutnya juga digunakan untuk bermain burung dara, kolong.

Di lapangan yang dikenal dengan lapangan Tanjung itulah anak-anak kecil dan remaja berkumpul bersama kelompoknya masing-masing. Sebagian besar dari mereka, tiap kelompoknya menggendong tas ransel. Tak jarang, kebanyakan dari anak-anak tersebut masih mengenakan sarung dan peci. Beberapa di antaranya melingkarkan sarung mereka di antara pundak dan pinggang secara menyimpang.

“Dor!” Terdengar sebuah suara petasan meledak. Selanjutnya, suara “dar-der-dor” petasan saling bersahut-sahutan. Dan di antara sekian banyak petasan yang disulut, beberapa anak-anak tadi juga menyulut petasan ukuran besar yang dalam bahasa di lingkungan mereka disebut dengan kata yang diambil dari tiruan bunyi petasannya itu sendiri: Dhem!

Salah seorang remaja berjalan kaki cepat-cepat menuju ke tengah-tengah lapangan. Di salah satu tangannya, samar-samar terlihat ia membawa petasan sebesar kaleng berdiameter sekira 10 cm. tepat di tengah lapangan, remaja ini meletakkan mercon berukuran cukup besar itu. Lalu, pada bagian sumbunya, ia sambung dengan sobekan kertas. Ketika ia mulai menyalakan sobekan kertas itulah, anak-anak lain mulai berteriak-teriak siap menyambut ledakan petasan di tengah lapangan.

Remaja penyulut petasan besar itu pun segera lari setelah dirasa nyala api pada sobekan kertas tadi benar-benar telah menyala secara pasti. Ia berlari menuju ke segerombolan anak-anak seusianya, teman-temannya. Dalam hitungan detik, petasan besar itu pun meledak, Dhemmm! Semua yang menyaksikan bersorak gembira. Kepulan asap putih mengepul hebat di tempat di mana petasan tadi diledakkan. Dan tentu saja, kertas-kertas yang dipakai sebagai bahan petasan, berhamburan di sekitar ledakan.

Petasan-petasan besar kemudian disulut dengan cara dan proses yang kurang lebih sama persis. Dari satu kelompok anak-anak “dibalas” dengan petasan bikinan kelompok lain. Begitu terus sampai petasan yang menjadi “bekal” mereka pagi itu habis.

***
Ilustrasi petasan

Itulah sedikit cerita mengenai petasan yang menjadi suatu tradisi di lingkungan saya, desa Simbang Wetan, Kecamatan Buaran, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah. Sebuah tradisi yang layak diperhatikan secara lebih jauh karena sesuai fakta yang ada, hampir setiap tahun, petasan menjadi momok menakutkan bagi sebagian besar warga di Pekalongan pada umumnya. Setiap tahun, nyaris terberitakan adanya korban yang terkena ledakan petasan.

Tahun 2015, seorang pria bernama Kliwon (50 th) asal Dukuh Kendogo, Desa Bondansari, Kecamatan Wiradesa, Kabupaten Pekalongan, nyawanya terenggut oleh sebab petasan yang dibuatnya sendiri di rumahnya. Bukan hanya dirinya yang menjadi korban, bahkan keponakannya yang masih berusia 10 tahun pun ikut menjadi korban. Kaki si bocah bernama Dandy tersebut nyaris sepenuhnya hancur.

Sedangkan tahun lalu, sejumlah 12 pemuda harus dirawat secara intensif di Rumah Sakit sebab terkena ledakan petasan. Kejadian nahas ini terjadi di kelurahan Banyu Urip, Pekalongan Selatan, Pekalongan dini hari 13 Juli 2016. 7 di antara korban tersebut mengalami luka sangat parah, bahkan salah satunya harus diamputasi sebelah tangan dan kakinya.

Menurut salah seorang kerabat korban, 12 pemuda itu tengah mempersiapkan petasan berukuran jumbo atau seukuran paha orang dewasa. Tatkala petasan jumbo tersebut mulai diisi dengan bubuk petasan, secara tiba-tiba petasan tersebut meledak. Satu kejadian yang terlampau sulit untuk dibayangkan bagaimana hal tersebut terjadi. Yang jelas, hari itu juga petasan telah memakan korban.
Maklumat yang berisi larangan di bulan Ramadhan, termasuk bermain petasan, oleh Kepolisian Resor Pekalongan

Selain di tahun 2015 dan 2016 tersebut, tahun-tahun sebelumnya, rentetan kasus petasan masih panjang jika harus diurai satu per satu. Tak ayal hal ini mendorong kepolisian Pekalongan mengeluarkan maklumat yang berisi larangan keras bagi warga untuk menyalakan petasan. Himbauan ini hampir setiap bulan Ramadhan dikeluarkan oleh pihak kepolisian. Namun demikian, sebagian besar warga masih sering abai terhadap himbauan semacam ini. Setiap bulan Ramadhan, “tradisi” menyalakan petasan di lapangan masih saja dapat kita saksikan, terutama di hari-hari di mana anak-anak libur sekolah, yang sebagian besar berlibur pada hari Jum’at.

Ramadhan dan lebaran, selain juga moment pergantian tahun, menjadi momen di mana telinga kita akan merasa kian akrab dengan bunyi petasan. Suara dar-der-dor terdengar di mana-mana, bukan hanya di Pekalongan saja tetapi juga di kota-kota lain. Di luar negeri pun, petasan juga beberapa kali menjadi petaka mamatikan. Yang belum lama terjadi ada di Meksiko pada penghujung tahun 2016 silam. Sebuah pasar petasan tebesar di Meksiko meledak dan menewaskan 29 warga serta melukai tak kurang dari 70 warga lainnya di area tersebut ketika peristiwa nahas itu terjadi.

Sedangkan menurut berita yang dilansir TirtoID, di Amerika, pada tahun 2015 lalu, U.S Consumer Product Safety Commission (CPSC) mencatat ada 11.900 korban akibat petasan serta kembang api. Catatan lain, CPSC juga menemukan bahwa antara tahun 2000 hingga 2015, korban meninggal akibat kembang api dan petasan mencapai 119 orang, setara dengan 7,4 orang tiap tahunnya.

Meski tidak ditemukan data spesifik mengenai korban yang jatuh akibat petasan, namun setiap tahun kita dapat menjumpai berita dari berbagai daerah di Indonesia yang menjadi korban ledakan petasan, dari luka ringan hingga kematian. hal ini memunculkan pertanyaan besar, siapa sebenarnya yang paling bertanggung jawab atas tragedi-tragedi yang terjadi oleh sebab petasan?

Seperti yang telah diungkapkan di atas, bahwa setiap mendekati bulan Ramadhan, kepolisian selalu mengeluarkan maklumat atas pelarangan bermain petasan. Di Pekalongan, maklumat dari kepolisian setempat juga disebarkan melalui berbagai media dengan tujuan agar semua pihak dapat memahami bahwa Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya mengandung banyak keberkahan. Bermain petasan, tentu saja bukan bagian dari sebuah wujud keberkahan itu sendiri apalagi sebuah ibadah.

Selain pihak kepolisian, kita yang berusia dewasa, terlebih yang sudah menjadi orang tua semestinya harus memiliki peran aktif dalam pelarangan memainkan petasan. Sebagai masyarakat yang cerdas, kita sudah selayaknya mengambil peran penting dalam meminimalisir tragedi yang berasar dari ledakan petasan. Barangkali, di Pekalongan yang masyarakat umumnya banyak yang masih mau mendengarkan “wejangan” dari para Ulama, maka kita juga perlu mendorong agar para Ulama di Pekalongan untuk mengeluarkan anjuran agar para orang tua mau melindungi anak-anaknya dari “godaan” nikmatnya bermain petasan.

Di samping itu, kita juga perlu mendesak agar peraturan tentang pelarangan petasan benar-benar digalakkan dengan sungguh-sungguh. Semua penjual petasan, harus terus dicari, dirazia, dan diberi hukuman yang sesuai dengan perbuatannya. Ini tentu bukan persoalan “melarang orang mencari rizki”, karena faktanya, masih ada jenis pekerjaan lain yang masih dalam lingkup jual-beli yang lebih aman dari berjualan bubuk petasan, dsb. Memang, layaknya harga barang-barang terlarang lain, harga bubuk petasan juga kian di larang kian melambung tinggi. Ini yang kerapkali menjadi dasar kenapa sesorang memilih untuk menjual bubuk petasan daripada menjual Es Kelapa Muda, misalnya.

***
Polisi merazia petasan

Pada hari yang lain, di hari-hari akhir bulan Ramadhan, kegiatan jalan-jalan di pagi hari dengan maksud bermain petasan, bagi anak-anak justru kian gencar. Anak-anak, remaja terutama, makin akhir bulan puasa makin besar petasan yang dibawanya ke lapangan.

Seperti hari itu, Azka bersama enam temannya, berangkat menuju ke lapangan dengan menyandang ransel berisi petasan-petasan berukuran besar. Namun sesampainya di lapangan, belum sempat ia dan teman-temannya menyulut petasan mereka, dua orang polisi berseragam lengkap, seakan muncul dari semak-semak ilalang di pinggiran lapanga secara tiba-tiba. Kedua polisi ini membikin anak-anak dan remaja yang sudah berkumpul di lapangan itu lari tunggang-langgang.

Kedua polisi itu mencoba menangkap remaja yang mampu dijangkaunya. Salah seorang remaja akhirnya tertangkap. Di tangan polisi, remaja itu diberi tahu bahwa bermain petasan merupakan permainan yang dilarang. Si remaja, dengan wajah ketakutan, kemudian dilepaskan oleh polisi dan kembali ke rumah.

Ke esokan harinya, remaja yang telah diberi nasihat langsung oleh polisi itu, kembali berjalan menuju ke lapangan, dan tetap membawa petasan untuk disulut.

“Dor!”
“Dhuarr!”
“Dhemmm!”
“Dheeemmmmmm!”


Ditulis oleh Em.

Sumber gambar masfim.com - kompas.com - kaltim.prokal.co

Posting Komentar

0 Komentar