Advertisement

Seketeng dari Tahun ke Tahun

Seketeng pada zaman kolonial di Pekalongan. FOTO/Arif Dirhamsyah/facebook

Nguri-Nguri Tradisi Seketeng di Pekalongan.


Selain mepunyai ide bikin festival balon terbang, bikin ring berantem satu lawan satu yang saya yakini semua sumber ide datangnya dari Allah sepertinya menarik jika saya tulis saja, siapa tahu setelah membaca tulisan saya ini timbul ingin mewujudkan ide itu. Tapi jika tidak ada rasa yang timbul setelah membaca tulisan ini juga tidak apa-apa, tidak masalah. Ide yang mau saya tulis ini berkaitan dengan bulan Agustus. Ya, bulan Agustus yang tinggal menghitung hari lagi.

Saya selalu teringat setiap kali tiba bulan Agustus pra reformasi 98. Saat orde baru masih berkuasa, saat pemilik TV masih jarang, saat facebook, twitter, instagram belum ditemukan, saat handphone belum secanggih dan sepintar seperti sekarang. Saya masih teringat dengan jelas masa itu di mana gang-gang di desa saya setiap bulan Agustus dihias dengan karya seni yang berkaitan dengan hari kemerdekaan. Ada yang menghias gangnya dengan patung Bung Karno yang terbuat dari kertas semen bekas, ada yang digambar dengan tokoh-tokoh pahlawan nasional; Bung Hatta, Jendral Soedirman dan lain-lain. 

Tidak cukup dihias dan digambar, tapi juga dipercantik dengan dikasih lampu warna-warni merah, kuning, hijau, biru, dan banyak pernak-pernik bendera. Sehingga jika tiba waktu malam menjadi daya tarik tersendiri bagi orang-orang yang melihatnya.

Orang-orang menyebutnya dengan 'Seketeng'. Entahlah, 'Seketeng' itu secara terminologi diambil dari bahasa apa saya sendiri kurang tahu. Diambil dari bahasa arab, kawi, ataukah bahasa sansekerta. Mungkin perlu ada kajian khusus yang membahas seketeng. Baik secara kata dan juga sejarah asal muasalnya.

Tradisi Seketeng menjadi tontonan menarik bagi saya yang waktu itu masih MI / SD. saat itu belum kepikiran dana yang dihabiskan untuk bikin seketeng itu berapa, diperoleh dari mana, dari balai desa, ataukah patungan warga. Yang saya rasakan hanya kegembiraan menyambut hari kemerdekaan, karena dipuncak malam 17 agustusnya adalah malam yang ditunggu-tunggu. Sebab, ada beberapa gang yang bikin panggung hiburan pentas seni, menampilkan pembacaan puisi, musik dangdut drama dan lain-lain.

Masyarakat di desa saya waktu itu hampir semuanya keluar rumah, berbondong-bondong berjalan kaki menuju ke gang-gang yang ada hiburan; dari yang kecil, dewasa, perawan, perjaka, janda, duda, yang udah punya pacar, yang masih jomblo, yang baru putus karena alasan terpaut usia, ibu-ibu, bapak-bapak, kakek-nenek semuanya ngumpul "tumplek blegh" di sepanjang jalan raya.

Alat transportasi pada waktu itu masih sebatas becak dan sepeda, jadi malam itu kemacetan terjadi di jalan raya diakibatkan bukan karena banyaknya alat transportasi seperti kemacetan yang ada di jakarta, tapi karena banyaknya pejalan kaki.

Saat ini tradisi seketeng yang dulu dibikin setiap gang sekarang bisa dikatakan sudah hampir punah. Iya, hampir punah. Saya bisa berkata seperti itu sebab setiap kali tiba bulan Agustus saya perhatikan sudah mulai jarang gang-gang yang bikin seketeng, jikapun ada yang bikin seketeng, cuma beberapa saja, bisa dihitung dengan jari, berbeda dengan zaman dulu. Itu pun seketeng yang dibikin tidak ada relevansinya dengan hari kemerdekaan Indonesia.

Pernah waktu itu saya lihat ada gang yang bikin seketeng BOM bergambar bendera Palestina, “Are You Sure?” Pernah juga ada gang yang bikin seketeng teko berukuran besar. “What the hell is that mean?”

Berangkat dari rasa keprihatinan saya melihat tradisi seketeng yang hampir punah, saya pernah mengagas ide bagaimana jika tradisi seketeng dihidupkan lagi. 

Gagasan ide itu saya ceritakan ke teman-teman dekat, kalau tidak salah waktu itu di pertengahan tahun 2012. Saya menceritakan detail dari konsep dan urusan pendanaannya. Respon teman-teman banyak yang menanggapi positif gagasan ide itu. Ada beberapa poin gagasan yang saya ceritakan ke temen-temen waktu itu. Di antaranya; seketeng harus bertema dari tahun ke tahunnya, misal tahun ini bertema "Hewan-hewan asli Indonesia" maka setiap gangnya harus bikin patung atau gambar yang sesuai dengan tema, untuk tahun selanjutnya bisa diganti dengan tema yang masih berkaitan dengan Indonesia misal saja: "alat musik asli Indonesia". Tidak cuma bikin seketeng, tapi juga dilombakan antargang, ada tim juri yang khusus menilai dari sisi kerajianan, sisi keindahan, kesenian, dan sisi-sisi yang lain. 

Start lomba dimulai dari tanggal 1 sampai tanggal 16 Agustus adalah untuk penjurian, untuk pengumuman pemenang lomba saat malam 17 Agustusnya. Jadi, pihak panitia mempersiapkan konsep dan tema di bulan-bulan sebelumnya. Selain itu pihak panitia juga harus menyiapkan panggung hiburan pentas seni seperti; pembacaan puisi, musik, drama. Sekaligus sebagai tempat untuk penyerahan piala pemenang lomba seketeng.

“Kenapa seketeng dilombakan?” Bentuk apresiasi terhadap karya seni, selain itu juga wadah bagi anak-anak yang masih usia SD, SMP, atau SMA menampilkan bakatnya di bidang seni. Seperti: menulis puisi, bakat bermain musik, bernyanyi, berakting dan lain-lain.

“Bagaimana dananya  diperoleh?” Saya rasa dana bisa diperoleh dari kelurahan balai desa, sponsor mungkin juga iuran warga.

”Tujuan adanya seketeng?” Selain menyambut hari kemerdekaan, mudah-mudahan dengan adanya seketeng yang tematik bisa menumbuhkan jiwa nasionalisme generasi muda yang saat ini mulai luntur, selain itu juga bisa menumbuhkan semangat gotong royong, kekompakan antarwarga satu gang.

“Terakhir, kenapa kamu punya ide untuk menghidupkan lagi tradisi yang hampir punah di desamu itu?” Karena Indonesia bagian dari desa saya.


— Pekalongan, Senin 18 Juli 2017


Kontributor; Nasrul Rokhim

*Tulisan ini pernah dimuat di laman status facebook pribadi penulis. Anda bisa membaca tulisan originalnya melalui tautan ini.

Posting Komentar

0 Komentar